Bunga yang Tidak Pernah Layu

Tak terasa waktu yang bergulir, musim yang bergati, berjalan begitu cepat. Kini semua telah berubah, kini semua telah berbeda. Tidak ada lagi suara teriakan,tangisan,candaan dari bibir gadis kecil yang menyebalkan. Tak terdengar kegaduhan ataupun keriuhan dari dua saudara yang beraktivitas bersama. Kita sudah beranjak dewasa, kita sudah bisa melakukan hal-hal mandiri tanpa bantuan orang lain, bahkan kita sudah mampu menentukan jalan hidup kita sendiri. Namun, ingatkah masa di 10 tahun yang lalu? 
saat itu aku masih menjadi gadis kecil yang penuh canda tawa,riang, namun.. saat itu, aku masih gadis kecil yang selalu menggantungkan hidup ke seorang wanita yang ku sebut mama. 
saat 10 tahun yang lalu, aku menggambarkan mama dengan otak polos anak kecil yang tak berdosa. Aku menganggap mama adalah sesosok wanita yang selalu mengatur kehidupanku dan kakakku. Mama itu, yang selalu membuatkanku sarapan di pagi haru sebelum berangkat sekolah. Mama itu, orang yang mencuci dan menyetrika bajuku. Mama itu, yang masak buat kita semua. Mama itu, orang yang selalu membantuku mengerjakan pr. Mama itu, orang yang mengantarku ke sekolah. Mama itu, yang mengajarkanku arti agama,sholat, dan mengaji. Mama itu, orang yang selalu menjagaku disaat sakit. Mama itu, orang yang berwujud layaknya monster jika aku melakukan kesalahan. Mama itu, orang yang selalu mengasihiku dan menuntunku ke jalan kebaikan.
Tapi, sering aku kesal dengan orang yang kusebut mama itu. Dia begitu amat menjengkelkan, dia sangat menyebalkan. Dia tak mengerti perasaanku, dia tak mengerti kondisiku, dia tak tahu bagaimana sakit perasaanku. Dia hanya bisa mengucapkan kata-kata yang membuat telingaku sakit, yang membuat air mataku mengalir. Aku benci, aku kesal. 
Suatu ketika, aku bermain di taman di dekat rumahku. Banyak sekali bunga bermekaran, aku senang berada disana, melihat bunga berwarna-warni. Tak terkecuali, pandanganku terpaku pada bunga berwarna putih, bunganya berbeda dari yang lain. Begitupun ukurannya, lebih kecil dari yang lain. Aku memetiknya, dan kubawa pulang. 
Aku menunjukkan bunga yang kupetik tadi ke mama. Kata mama, bunga ini mirip dengan bunga edelweis. Bunga edelweis, adalah bunga yang tumbuh dipegunungan, dan bunga ini adalah bunga yang tak pernah layu. Tanpa memperdulikan perkataan mama, aku menaruh bunga itu dalam gelas dan aku letakkan di meja belajar. Setiap belajar aku selalu memandangi bunga itu, dan benar kata mama bunga ini tak pernah layu. Namun, apa benar ini bunga edelweis seperti yang ada dipegunungan? Otak gadis kecil ini tidak ingin memikirkan jauh-jauh dan jika memang bunga ini tidak layu-layu maka benar, bunga ini adalah bunga edeweis yang tak pernah layu.
Hari demi hari, gadis kecil ini beranjak remaja. Bunga yang dipetik di taman kala itu telah lama layu. Saat itu, aku berfikir bunga ini bukan bunga edelweis, sekalipun bunga edelweis tidak akan pernah ada bunga yang tidak pernah layu, mama berbohong.
Mama..
Semakin usia ku bertambah, sosok mama itu semakin menyebalkan. Mama itu, marah-marah terus. Mama itu, suka ngatur-ngatur. Mama itu, suka ngelarang-larang. Mama itu, suka nyalahin aku. Mama itu, kaya monster tau.
Mama kenapa aku selalu diatur sama mama, aku itu sudah besar. Aku sekarang sudah bisa melakukan hal sendiri. Kenapa mama itu selalu menganggap aku masih menjadi gadis kecil mama, yang mama bohongi kalau dia sudah memetik bunga edelweis yang tak pernah layu itu ditaman. Aku sudah punya jalanku sendiri. Aku ga mau bicara lagi dengan mama, mungkin karena mama sudah tua jadi mama sulit untuk mendengar, mata mama pun sudah tidak jelas untuk melihat, kalau aku sudah besar.
Mama, wanita itu berlinangan air mata ketika ku ucapkan kata itu. 
"Mama memang sudah tua nak, mama sudah tak bisa mendengar jelas perkataanmu. Namun ketika kamu masih bayi, tak ada seorangpun yang bisa mengerti perkataanmu, tak ada yang bisa mendengar apa maksud bahasamu, tapi mama tahu apa yang kamu inginkan. Matamu belum bisa melihat jelas kehidupan, tapi mama selalu memperlihatkan kehidupan kepadamu. Tak ada yang mau berbicara denganmu, karena kamu tak bisa berbicara, namun mama selalu mengajakmu berbicara dan selalu memahami bahasamu. Kamu tak bisa berjalan, dengan hati-hati aku menuntunmu dan mengajarkanmu berjalan. Mama selalu memberikan kasih dan sayang setiap saat, mama menginginkan gadis kecil mama tumbuh menjadi anak yang pintar, baik, dan bisa membanggakan mama. Mama tidak akan pernah berbohong, mama selalu mengajarkanmu kebaikan. 
Mama akan selalu menyayangimu layaknya bunga edelweis yang tak pernah layu. Kasih sayang mama terlukiskan pada bunga edelweis, yang putih, bersih, suci, dan menyejukkan. Dan yang terpenting kasih sayang mama tidak akan pernah layu seperti bunga edelweis."

Aku menangis dipelukkan mama, aku merasakan sejuknya, bersih dan putihnya bunga edelweis, dan aku merasakan ketidak layuan bunga edelweis pada kasih sayang mama yang tidak akan pernah pudar, walaupun aku mencabut bunga edelweis itu dari tanah.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Naskah Drama